Tampilkan postingan dengan label Akar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akar. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Agustus 2009

Semsar Siahaan, seniman aktivis yang kesepian


Dia seniman yang “tak ingin” kaya, anak seorang jenderal TNI-AD, tapi justru anti-militerisme.

Pelukis SEMSAR SIAHAANKakinya dipatahkan aparat militer ketika ikut demo membela Tempo yang ditutup rezim Soeharto. Kompas menulis “kesintingannya” tinggal di rumah kontrakan yang mirip rumah hantu. Saat kuliah di ITB, dia nekat membakar patung karya dosennya sendiri.

Artikel ini ditulis oleh Suhunan Situmorang, seorang advokat di kantor Nugroho Partnership Jakarta, pengarang novel, dan juga penikmat karya seni. Tulisan ini dikirimkan ke imelku bataknews [at] gmail [dot] com.

TANGANNYA BEGITU CEPAT menyendok makanan ke mulutnya. Tak terkesan lahap atau karena remasan lapar. Mungkin begitulah caranya makan, atau karena merasa sudah terlambat mengikuti hajatan sastrawan Sitor Situmorang yang berulangtahun ke-80 di sebuah ruang pameran TIM itu. Malam itu, 2 Oktober 2004, sambil makan, kami membincangkan banyak hal, terutama tema yang diusungnya dalam pameran karya-karya terbarunya di Galeri Nasional.


Ia belum berobah, tetap berselubung misteri. Sejak Juni 1994, kali pertama mengenal dalam sebuah diskusi gelap, kesanku pada lelaki separuh baya ini masih sama: dingin, angker, garang, pemarah, teguh bak batu karang, penuh misteri, walau hatinya tulus menjalani relasi sosial dan humanis. Bedanya, malam itu, kulihat wajahnya kusut-masai, rambutnya semakin memutih, dan… agak aneh: bola matanya kuning. Yang kutahu, mata seperti itu lazim terjadi pada pengidap penyakit kuning atau hepatitis. Namun, demi etika pergaulan, tak kutanyakan.

Bicaranya tetap lugas, dan lantak. Ia memintaku agar tak ikut merokok di ruangan berpendingin udara seadanya itu, seraya mengecam beberapa pengunjung yang tak mengacuhkan larangan merokok. “Itu merugikan kesehatan orang lain,” ujarnya tegas.

Selain menyinggung pameran karyanya yang meledek dan mengecam G-8 di Galeri Nasional, pertanyaan yang kusudorkan tak jauh dari alasan kepulangannya setelah berdiam di Kanada, 1999-2004. Pengakuannya, tak betah dan sebetulnya sudah lama muak mukim di negeri yang dingin itu, terutama disebabkan sikap rasis orang-orang kulit putih Kanada yang kelewatan pada imigran dari Asia dan Afrika. Saya kaget, tak menyangka separah itu—jika pengakuannya benar. Sebelumnya kubayangkan, ia hidup nyaman dan menemukan tempat yang tepat untuk membebaskan dirinya bereksperimen dengan status tamu terhormat The University of Victoria.

Ia memilih kembali ke negerinya, seperti apapun kondisinya; tanah air yang kelewat dicintainya namun sekian tahun dikejar-kejar intelijen dan tentara penguasa karena sikap kritis dan perlawanannya.

Semsar Siahaan, mungkin tak begitu akrab di telinga anda, seperti halnya orang Indonesia kebanyakan—apalagi di kalangan etnis Batak. Ia terkenal dan dikenal orang-orang dan kalangan tertentu saja, termasuk orang luar negeri pemerhati senirupa. Sebagai seniman, ia dipuji, dikagumi, sekaligus dibenci karena sikap keras, kritis, radikal, dan gairah berontaknya yang seakan tiada akhir. Terbilang naiflah bila mengaku penggiat atau pengamat senirupa (terutama lukis) di Indonesia bila tak tahu Semsar Siahaan berikut ulahnya.

Lelaki kelahiran Medan 11 Juni 1952 itu pernah menggemparkan kampusnya, Departemen Seni Rupa ITB, karena nekat membakar karya dosennya, Soenaryo, patung Citra Irian. Juga menggegerkan “warga” TIM karena pernah memanjat kubah planetarium malam menjelang pagi untuk memasang spanduk “manifesto politik berkeseniannya”, dan tanpa izin penguasa TIM, melukis mural anti-Soeharto dan anti-militerisme di tembok luar Teater Arena, yang kemudian dihancurkan (entah oleh siapa) berikut bangunan teater.

Sejak kuliah di Departemen Senirupa ITB, ia sudah memperlihatkan sikap kerasnya melawan rezim yang dibangun Soeharto, sekaligus menentang militerisme tanpa pernah merasa takut. Ironisnya, ayahnya sendiri seorang militer (AD) dengan pangkat perwira tinggi.

Ia aktif berdemo menentang Perang Teluk, 1991. Ketika pemerintahan Soeharto membreidel majalah Tempo, Editor, tabloid Detik, Juni 1994, ia termasuk yang garang berdemonstrasi di sepanjang Jalan Medan Merdeka Barat-Thamrin. Saya sendiri, saat itu, terbilang “pengecut” karena tak berani bergabung dengan pengunjuk rasa dan cukup menyaksikan dari halaman gedung Sarinah. Sepanjang usiaku, baru dua kali memang ikut berunjukrasa. Pertama, ketika mengecam pelaku ‘Bom Bali’ kedua di Bundaran HI bersama pemuda-pemudi Hindu Jakarta atas ajakan Ismed Hasan Putro, ketua Masyarakat Profesional Madani (MPM). Kedua, saat ‘Aliansi Mawar Putih’ menentang RUU Anti Pornografi atas ajakan Ayu Utami, itupun lebih banyak menikmati wajah-wajah cantik kaum perempuan peserta demonstrasi yang wara-wiri di dekat tugu Selamat Datang HI, lalu ngobrol sembari merokok dengan Presiden SBY Republik Mimpi, Butet K.

Harga yang harus “dibayar” Semsar untuk perlawanan atas pembreidelan majalah Tempo itu cukup mahal: aparat militer mematahkan salah satu kakinya, dan sejak itulah ia agak pincang bila melangkah.

Lewat karya dan suaranya, Semsar adalah oposan abadi bagi rezim Orde Baru. Bahkan, sesudah Soeharto lengser pun, ia tetap diuber orang-orang misterius—membuat ia harus melarikan diri ke Kanada berkat bantuan teman dan pengagum karyanya di luar negeri, melalui jalur Singapura.

Sebagai orang awam di dunia senirupa, saya tak punya kapasitas membicarakan karya-karyanya, yang menurut penilaianku yang cuma penikmat, jauh dari kesan indah. Tetapi siapapun, bila tak subjektif dan apriori pada Semsar, akan mengakui lukisan, sketsa, instalasi, karya lelaki penyendiri yang hampir semua karyanya bertemakan kemarahan, pemberontakan, perlawanan, ledekan, ironi dan tragedi, itu adalah karya-karya yang tak hanya kuat memberi gambaran atas tema yang dilukis atau diguratnya termasuk aksentuasi warna pilihannya, juga, yang tak kalah penting: jujur mengungkapkan negative capability, isi hati dan pikirannya.

Semsar memang bukan pelukis “biasa”. Ia juga kritikus sosial yang tak bisa mendiamkan karut-marutnya realitas sosial yang dilihat matanya dalam keseharian. Ia marah melihat totalitariannya pemerintah Orde Baru yang seenak perut menginak-injak HAM, geram menyaksikan kemiskinan penduduk yang semakin mengerikan akibat ketidakbecusan penguasa mengelola aset dan keuangan negara sementara di sisi lain praktik-praktik KKN semakin memakmurkan keluarga pejabat dan pengusaha kroninya. Berang atas perlakuan-perlakuan diskriminatif penegak hukum, penindasan terhadap buruh, dan mengecam kecenderungan masyarakat yang kian egois, materialistis, konsumtif, dan snobis. Sikap galak dan kritisnya itu membuat dirinya memainkan posisi ganda di dunia senirupa Indonesia: seniman sekaligus kritisi sosial.

Ia setuju seniman tak harus hidup merana dan berhak meraih taraf hidup yang layak melalui karya-karyanya. Namun, dikecamnya seniman-seniman yang semata-mata berkarya karena pesanan galeri atau kurator yang ia sebut toko dan makelar lukisan; yang meredam luap emosi jiwa dan kecamuk pikiran demi memenuhi selera pasar dan pesanan kurator/galeri. Disindirnya para pelukis berharga super-mahal, salah seorang di antaranya sahabatku, perempuan Yogja bernama Erica, pelukis bergaya “kekanak-kanakan” yang harga lukisannya berkisar puluhan juta hingga ratus juta.

Semsar menilai pelukis-pelukis yang diperebutkan pemilik galeri-galeri seni di wilayah Kemang itu sebagai korban budaya ketamakan dan kerakusan yang disemburkan sistem kapitalisme dengan cara mematikan nurani; yang berkarya tanpa jiwa, tanpa ruang kebebasan mengaktualkan diri.

“Apakah kapitalisme selalu salah?” tanyaku ketika itu sekaligus menyikapi tema pamerannya di Galeri Nasional yang mengkritik para pemimpin dan industriawan negara-negara G-8, “Dan, adakah sistem yang lebih baik di luar kapitalisme?”

Semsar tak langsung menjawab. Mungkin pertanyaan semacam itu terlalu sering ia terima dan sudah pula berulang-ulang memberi sikap—sehingga menimbulkan kejenuhan. Sebagai seniman, bukan akademisi ideologi atau teoritisi ilmu ekonomi, ia lebih suka bila kritik dan pandangannya dibaca lewat karya-karya lukis, sketsa dan instalasinya yang sudah tegas bercerita; tak lagi menelurkan interpretasi dan penjelasan-penjelasan verbal. Dari simbolisme potongan-potongan pizza berukuran besar yang ia tampilkan dalam salah satu karya instalasinya di pameran terakhirnya itu, tak sulit memang mengaitkannya dengan hegemoni negara-negara berekonomi kuat yang tergabung dalam G-8 terhadap negara-negara berekonomi lemah dan terbelakang.

Dalam bahasa gamblang, ia mau mengingatkan siapa saja: penjajahan negara-negara berekonomi adidaya semakin mengakar, mencengkeram, ganas, yang sepatutnya dicemaskan dan diwaspadai—tak hanya menikmati budaya-budaya konsumtif dan materialistis yang tanpa disadari telah merasuki diri, membuat kecanduan dan ketergantungan pada apapun produk mereka, dan tak begitu saja dipukau pesona globalisasi, yang menelan mentah-mentah kultur dan “nilai-nilai baru” yang disuguhkan.

Semsar memang tak pernah lelah dan bosan memperjuangkan keadilan dalam berbagai spektrum dan kasus, selain terus mengingatkan agar harga diri tak diabaikan. Sikap keras dan nonkompromistisnya itu acap dikaitkan dengan darah dan turunan “genetikanya”, manusia Batak yang hidup dan dididik dengan kultur militer. Entahlah apakah ada kaitannya, Semsar sendiri tak murni berdarah Batak, sebab perempuan yang melahirkannya berdarah India. Lagipula, ia tak seperti turunan serdadu pada umumnya yang doyan membawa-bawa pistol ayah dan bangga atas pangkat dan kuasa orangtua.

Yang membuat saya heran dan sampai kini tetap bertanya-tanya, mengapa ia memilih jalan yang sepi itu—seniman pemberontak, galak, anti kemapanan, penyendiri, menjauhkan diri dari hampir semua atribut kenikmatan jasmaniah—sementara latarbelakangnya, sebetulnya, berasal dari kelas menengah, kalau tak orang kaya. Bayangkan, masa kecil dan remajanya—karena tugas ayahnya—terlewatkan di Beograd, Yugoslavia, Perancis, San Fransisco; tempat-tempat di mana ia mulai belajar seni lukis dan sketsa. Maka ketika mulai kuliah di ITB (1977), sebetulnya ia sudah memiliki pengetahuan dan kemampuan yang lebih dari cukup sebagai seniman.

Semsar tak tamat dari kuliah senirupanya di ITB, mungkin karena sudah terlanjur dianggap “monster” yang menakutkan almamaternya, selain ketakbutuhannya pada selembar kertas diploma. Tetapi lewat gebrakannya pada sebuah bianneale TIM-IKJ tahun 80-an, ia semakin tegas menampakkan dirinya: bukan sekadar seniman pemberontak yang ekstrim menyalurkan sikap—terutama ketika pameran seni instalasinya itu ia gali halaman belakang TIM laksana liang kubur untuk manusia raksasa yang merindingkan bulu-bulu tubuh, dan…, seusainya, membakar karya-karyanya, membuat penikmat dan pengamat senirupa terperanjat dan sulit percaya.

Baginya, hakekat sebuah karya adalah ketika akhirnya dimusnahkan dengan cara dibakar supaya jadi abu. Kelihatannya, pengaruh Hindu dan India sangat kental dalam dirinya, termasuk kesukaannya pada musik India, termasuk album-album Beatles dan beberapa personilnya yang melahirkan karya musik dengan mengadopsi unsur musik dan instrumen India.

Ketika karya-karyanya ia musnahkan, saya termasuk yang kesusahan memahami jalan pikirannya, dan karenanya hanya bisa bergurau pada seorang kawan dekat, Iskandar Siahaan, yang sempat dekat dengan Semsar (mungkin karena faktor semarga), bahwa “Siahaan memang banyak yang rittik (sinting).” Edan!

Harian Kompas sendiri pernah mengulas kenyentrikan Siahaan yang satu ini secara panjang-lebar. Diceritakan, betapa seorang ibu pemilik rumah sederhana yang disewa Semsar di wilayah Cinere, senantiasa heran dan bertanya-tanya menyangkut lelaki misterius penyewa rumahnya. Rumput liar yang tumbuh di halaman rumah dibiarkan mengilalang hingga hampir menutupi bangunan rumah, pintu dan jendela jarang dibuka, dan penghuninya amat jarang melongok matahari.

Kelangsungan rumahtangganya (ia menikah dengan perempuan non-Batak, beda keyakinan tetapi disebut-sebut Semsar sudah mengkonversi keyakinannya) yang kandas di tengah jalan dan kehidupan (atau sikap?) keberagamaannya yang “aneh” dan cenderung agnostic, seolah melengkapi kemisteriusannya. Tetapi, dengan seluruh keanehan dan “kegilaannya” yang tak terkesan dibuat-buat atau dipaksakan itu, membuat dirinya menjadi ikon atau simbol perlawanan dan pemberontakan yang dikagumi kaum muda anti-kemapanan; menggoda penggiat dan pengamat senirupa dan pemerhati isu HAM dari manca negara (terutama Eropa, Amerika, Kanada, Australia), terus menguntit aktivitas dan karyanya.

Mungkin, Semsar-lah seniman pluralistik (istilah kritisi senirupa) Indonesia yang paling banyak diulas media-media senirupa Eropa, Amerika, Kanada, Australia, Jepang. Barangkali pula, selain Pram, Sitor, Goenawan Mohamad, dialah “orang-orang aneh” milik bangsa ini yang karya dan figurnya tak habis-habis dikaji pengamat seni-budaya-sastra lokal maupun luar.

Saya tak akan memaparkan apa-apa saja karya Semsar di tulisan sederhana ini. Bila anda tertarik menelusuri lebih jauh “ke-diri-an” dan karya-karyanya, mudah dicari dengan mengklik Google atau Yahoo. Salah satunya, Semsar’s Gallery, asal foto-foto wajah dan lukisan Semsar “dipinjam” untuk tulisan ini.

Saya merasa beruntung sempat mengenal dan beberapakali berbincang dengan lelaki misterius ini—walau tak hangat, tetap berjarak, dan, sebagaimana penilaian kawan-kawan lain, takkan bisa dirangkul oleh siapapun, termasuk katanya keluarga dekatnya sendiri, apalagi menjadikannya semacam alter-ego. Ia mengaku tak punya HP dan hanya mau dihubungi lewat email.

Demikian pun, ketika beberapa bulan setelah perbincangan di hajatan Sitor itu kuterima kabar duka melalui SMS seorang kawan di Bali, “Semsar Shn mninggl dnia di Bali krn srngan jntng, jnzhnya akn dibw ke Jkt”, selain terkejut, perasaanku amat sedih—seraya membayangkan bola matanya yang menguning itu. SMS tersebut lalu kuteruskan pada Grace Siregar di Tobelo-Halmahera Utara, Agus Budyanto (pelukis cat air yang sedang naik daun), Tumpley Siahaan dan teman-teman seniman hotel Hilton, dan yang lain-lain.

Sesaat saya terdiam, lalu menggumam: “Sekali, tetapi berarti…”

Ia meninggal dunia di RSUD Tabanan, 23 Februari 2005, jam 1 Wita, tatkala melihat-lihat tukang bangunan mengerjakan studio sekaligus huniannya. Dusun Kesambi, Jatiluwih, Panebei-Tabanan, ia putuskan huniannya terakhir sekalian tempat berkarya—tanah nan bidang, yang pengakuannya pada saya, pemberian kawan dekatnya.

Jenazahnya sempat disemayamkan di Galeri Cipta TIM sebelum dikuburkan esoknya di pekuburan Menteng Pulo. Saya tak ikut mengantarnya, tetapi manakala melewati Jalan Casablanca yang membelah komplek makam yang kian dikepung bangunan apartemen itu, sesekali terbayang: seorang seniman besar negeri ini, pemberontak untuk keadilan dan kemanusiaan yang kesepian, rebah di situ. [www.blogberita.com]

read more...

Bedah Buku "Lekra Tak Membakar Buku"

Jawaban Untuk Prahara Budaya

Buku ini, meski disebut sebagai “buku putih”, tapi bukanlah sebuah pledoi buta terhadap Lekra. Ia adalah ikhtiar memberi kesempatan bagi mereka untuk berbicara apa sesungguhnya yang telah mereka lakukan semasa kurun 15 tahun yang bergemuruh itu.
Jika boleh disandingkan, buku ini adalah jawaban paling serius dari Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI yang disusun DS Moeljanto (DSM) dan Taufik Ismail (TI) sekira tahun 1995 silam.


TI dalam pengantarnya mengatakan bahwa Prahara Budaya disusun dengan ketulusan hati ingin meluruskan sejarah. Buku itu ditujukan bagi pembaca muda yang tak mengalami peristiwa tersebut. Sementara Muhidin dan Rhoma dalam pengantarnya mengatakan bahwa Lekra Tak Membakar Buku ditujukan untuk mengingat kembali peran Lekra dalam kebudayaan Indonesia pada masa itu dengan apa adanya agar generasi yang tak mengalami peristiwa tersebut memperoleh informasi sejarah yang berimbang.

Jika Prahara Budaya bersampul “merah” itu disusun oleh dua budayawan lanjut usia (baca: tua) yang sangat antipati terhadap Lekra, maka buku ini disusun dua orang muda enerjik dari masa yang sudah sangat jauh berbeda tatkala Lekra berdiri kukuh. Meski ketebalan hanya berbeda kurang dari 60 halaman, tapi perbedaan di antara keduanya terlihat prinsipil.

Dalam Prahara Budaya, tak jelas disebutkan posisi DSM dan TI sebagai apa selain nama mereka tercantum disampul—mungkin lebih tepat jika disebut editor jika bukan kolektor—dari kliping koran, majalah, dan makalah kebudayaan di seputar tahun 60-an. Dokumen-dokumen itu disajikan mentah, sedikit pengantar dan komentar di bawah, yang kadang tak ada kaitannya dengan bahasan di atasnya, dan perubahan judul (tanpa penjelasan mengapa diubah dari aslinya) di sana sini.

Tulisan pengantar yang dibuat TI pun lebih banyak mengungkap ketaksetujuannya atas dasar iman dan pengalaman subjektif; tak terungkap argumen yang sifatnya ilmiah. Sistematika penyusunan dan kronologi peristiwanya juga tak tertata dengan baik. Sehingga buku ini sangat jauh dari ilmiah—lebih tepat disebut buku pembunuhan telak Lekra. Lebih banyak menyajikan konflik, saling tuduh, saling tuding, dan maki bak prahara seperti judulnya. Hasilnya adalah sebuah pembangunan opini bahwa Lekra adalah organ kebudayaan kaum preman yang tak berotak, tukang keroyok, dan pembuat onar panggung kebudayaan.

Sementara Lekra Tak Membakar Buku, dihadirkan dengan sistematika dan kronologi yang runtut. Mulai dari apa dan bagaimana Lekra berdiri, kemudian riwayat Harian Rakjat sebagai corong utama kerja-kerja seniman Lekra, dan lantas satu demi satu diuraikan bagaimana kerja Lekra dalam bidang sastra, film, senirupa, seni pertunjukan, seni tari, musik, buku dan penerbitan. Melalui riset mendalam (seperti yang selalu diajarkan seniman organik Lekra), sepak-terjang seniman dan pekerja budaya Lekra menghalau serangan imperialisme budaya dan modal yang bersekutu dengan kekuatan feodalisme lokal diulas ulang.

Sambil sesekali memasukkan kutipan-kutipan dari sumber asli disertai catatan rujukannya. Juga dilampirkan keterangan akronim, berikut data-data hasil rapat, susunan pengurus, anggota pimpinan pusat, pengumuman, dan keputusan-keputusan penting Lekra dari rapat-rapatnya. Sungguh ini merupakan buku pertama mengenai Lekra yang sangat komprehensif.

Kerja Kreatif Seniman Lekra Di Panggung Kebudayaan

Dalam “panggung” Lekra Tak membakar Buku ini, terungkap banyak realitas menarik yang banyak tak diketahui publik. Di antaranya adalah instruksi pada semua utusan Kongres I Lekra dari seluruh cabang di Indonesia pada Januari 1959 agar tak hanya membawa bahan untuk diperdebatkan, tetapi juga membawa alat musik, mainan anak-anak, kerajinan tangan, pakaian daerah, cerita-cerita, ornamen-ornamen, penerbitan, dan lagu-lagu daerah masing-masing. Semua itu digelar dalam sebuah bazar besar sehari sebelum hingga kongres berakhir. Pengunjung pameran mencapai 15000/malam; sebuah jumlah yang tak kecil pada masa itu.

Tak sekadar memajangnya, mereka juga mematok program untuk menginventarisasi kekayaan-kekayaan cipta budaya Nusantara yang terserak ribuan jumlahnya itu sehingga tak dicaplok bangsa lain seperti kasus lagu Rasa Sayange atau Reog Ponorogo beberapa waktu lalu.
Seniman-seniman Lekra juga giat menyerukan agar pemerintah memperkeras sikap dengan gambar-gambar dan lukisan cabul dalam bentuk dan kegunaan apa pun seperti ilustrasi, poster, dekor, ornamen, tekstil, dan sebagainya. Kita tak perlu ribut dengan kontroversi RUU pornografi hari ini jika saja mendengarakan apa kata seniman Lekra puluhan tahun silam.

Lekra demikian tegasnya melakukan kerja budaya yang segaris dengan prinsip manipol, menentang keras imperialism dan memberdayakan kebudayaan dari dan untuk rakyat. Kesenian-kesenian pertunjukan yang mulanya hanya dapat dinikmati kalangan terbatas karena kungkungan budaya feodalisme mulai dikembalikan dan dibuka untuk bisa dinikmati rakyat seluas-luasnya. Keprihatinan akan fenomena miskinnya anak-anak kecil akan lagu-lagu yang sesuai dengan usia mereka sehingga mereka lebih banyak menyanyikan lagu-lagu dewasa tentang cinta-cintaan yang cengeng, mendorong Lekra untuk membahasnya secara serius dalam Konferensi Lembaga Musik Indonesia (LMI/Lekra). Fenomena ini tak jauh berbeda dengan kondisi nyata jagat musik kita saat ini. Setiap hari di televisi, kita disuguhi anak-anak kecil yang beradu suara dalam lomba menyanyi, dan lagu-lagunya jenis lagu dewasa. Adakah yang peduli?

Lekra tak membiarkan anggotanya menempuh jalan kebudayaan dengan ugal-ugalan. Setiap seniman mesti bertanggung jawab pada rakyat yang menjadi basis dayaciptanya. Lekra juga menekankan agar dalam proses mencipta (seperti sastra) selalu melalui riset ilmiah bukan ongkang-ongkang kaki sambil merokok dan menenggak alkohol. Sikap Lekra Jelas di sini bagaimana Lekra berpihak dalam peran budayanya dengan memundaki tiga asas: Bekerja Baik, Belajar Baik, Dan Bermoral Baik.

Di bidang perbukuan, Lekra menunjukkan bahwa pameran buku digelar bukan semata untuk kepentingan bisnis, tetapi juga ideologi. Dalam pameran bisa dilihat siapa saja yang mengikuti pameran dan buku-buku apa saja yang dipamerkan. Disinilah perang ideology propaganda politik melalui media literer itu terjadi.

Lekra Tak Membakar Buku adalah sebuah pembelaan atas tuduhan yang sering dilontarkan “lawan” budayanya pada masa itu. Salah satunya adalah bahwa Lekra organ budaya pembakar buku. Buku ini bersikap jelas dan tegas: TIDAK! Lekra percaya bahwa buku mampu mengubah dunia, tapi tidak sembarang buku. Buku yang mampu “mengubah” adalah buku yang isinya digali langsung dari perikehidupan rakyat melalui gerakan turun ke bawah dan bukan mimpi-mimpi kosong yang melulu menjual kepalsuan hidup dari kamar salon.

Lekra memang melakukan “teror” atas buku-buku penandatangan Manikebu dan juga pentolan-pentolan Masjumi dan PSI yang terlarang. Tapi Rhoma dan Muhidin ini memberi dalih bahwa dari lembar-lembar Harian Rakjat tak ada ditemukan bukti-bukti bahwa Lekra secara individu maupun kelembagaan telah mengorganisir pembakaran buku yang mereka tak sukai.
Lekra dan PKI ‘Buku putih’ ini juga sekaligus meluruskan asumsi publik akan posisi Lekra terhadap Partai Komnis Indonesia. Jika selama ini Lekra selalu diidentikkan dengan PKI, maka dua penulis muda ini mencoba memberikan perspektif lain.

Dalam Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) yang sepenuhnya diselenggarakan oleh PKI, Memang banyak seniman-seniman Lekra yang turut terlibat, namun kapasitasnya sebagai individu yang mengaku sebagai seniman “progresif revolusioner” dan bukan sebagai Lekra secara kelembagaan. Dalam perjalanannya, tak pernah ada nama Lekra disebut-sebut dalam kongres ini.

Tak pernah ada bukti factual bahwa Lekra pernah menjadi underbow PKI secara institusional. Lekra adalah organisasi merdeka yang tak masuk dalam kendali komando PKI. Akan tetapi, Lekra juga tidak sepenuhnya bersih dari pengaruh PKI. Lebih tepat jika hubungan Lekra-PKI ini disebut sebagai hubungan ideologis, demikian agumen Muhidin-Rhoma.

Terlepas dari beberapa kesalahan ketik di sana sini yang cukup mengganggu kenyamanan membaca, kita layak member apresisi pada buku ini sebagai sebuah dokumen sejarah yang disusun anak muda generasi sekarang dengan “semangat ilmu pengetahuan” dan keseriusan di atas rata-rata. Muhidin dan Rhoma menasbihkan buku ini sebagai sebuah dokumen pelurusan sejarah kebudayaan kita yang hilang dan terputus atas nama dendam politik yang terus diwariskan pada generasi muda.


read more...

SATU SEGI DARI DEBAT BUDAYA ANTARA MANIKEBU DAN LEKRA

Dari Notes Belajar Seorang Awam:

[Catatan Untuk Aguk Irawan Mn]
Dalam artikel yang sangat menarik berjudul "Menuju Kebudayaan Baru Itu Meniru Barat" yang diturunkan oleh Harian Sinar Harapan, Jakarta, pada tanggal 17 Juli 2004, Aguk Irawan antara lain menulis:

"Di saat gelombang perdebatan Manikebu Vs Lekra bertemu di puncak yang sangat sengit (1950-1965), Mesir juga mengalami persengketaan yang meluap dan tak kalah sengitnya. Permasalahannya juga tak jauh berbeda, yaitu dalam hal dan cita-cita ”mewujudkan kebudayaan baru” persoalan itu digiring melalui konsepsi ”bahasa dan sastra Arab”. Pelaku perdebatan adalah para eksponen modernisasi dan eksponen tradisionalisasi.Dalam perdebatan tersebut, ada satu nama yang sangat penting".

Artikel Aguk yang berharga sebagai pembanding dalam usaha menarik pelajaran dari negeri lain dan juga dalam usaha menyidik hukum umum dari peristiwa sejarah, telah mengangkat beberapa soal serius, antara lain apakah kebudayaan modern dan tradisional, risiko apa yang dihadapi oleh seorang pembidas, dan kemudian inti masalah dalam debat budaya antara Lekra [Lembaga Kebudayaan Rakyat] dan seniman-budayawan yang mencetuskan Manifes Kebudayaan yang oleh Pramoedya A. Toer ketika menjadi pengasuh ruang kebudayaan Lentera, Harian Bintang Timur, Jakarta disingkat dengan Manikebu -- istilah ironis yang sekalipun sudah menjadi umum digunakan tapi saya sendiri enggan menggunakannya. Mengapa? Karena ironisme dan sinisme tidak hakiki dan tidak membantu dalam menjawab masalah. Saya lebih suka jika dalam perdebatan kita memasuki dan membahas masalahnya dengan tenang tanpa sinisme dan ironisme. Saya tidak pernah menemukan irionisme, sinisme, apalagi gunjing dan maki-maki bisa memecahkan masalah kecuali menghilangkan ketenangan dan membangkitkan kekalapan. Penggunaan ironisme dan sinisme, apalagi gunjing dan maki-maki bagi saya hanya memperlihatkan taraf budaya dan kemanusiaan para peserta yang disebut "debat". Debat ide dengan cara ini akan merosot menjadi yang disebut oleh orang Jawa sebagai "eyel-eyelan" setingkat dengan "pokrol bambu", tanpa hasil apapun selain memarakkan kedengkian.Dan barangkali tidak bisa digolongan pada kategori debat ide.

Dalam hal ini sungguh menarik mengingat dan mencatat praktek debat tentang "gerakan aksi sepihak" antara Harian Rakjat dan Harian Merdeka, kedua-duanya terbit di Jakarta, yang saya nilai sangat sehat dan tenang sekalipun memperlihatkan perbedaan tajam dalam pendirian, sikap dan pandangan. Adanya debat ide antara kedua harian nasional penting ini dulu di samping adanya cara-cara debat emosional, menunjukkan bahwa kaum terdidik Indonesia itu terdiri dari paling tidak dua kategori: yang bisa berdebat ide dan yang sulit melakukannya. Sikap yang mau menang sendiri, pada galibnya tidak berbeda dengan ujud otoritarianisme di bidang pemikiran dan mentalitas.

Dari tiga permasalahan-permasalahan utama yang diangkat oleh Aguk Irawan Mn melalui artikelnya di atas, saya mendapatkan tambahan contoh lagi, bahwa kehidupan seorang pembidas, sekalipun sebatas ide, menanggung banyak risiko, termasuk diusir dari tanahair sendiri, dienyahkan dari tempat kerja dan dikucilkan, tanpa berarti bahwa ide-idenya salah. Keadaan ini bagi saya tidak lain dari memperlihatkan taraf kemampuan suatu masyarakat untuk mengkhayati, melaksanakan dan mengelola kehidupan masyarakat yang selalu majemuk dan tidak pernah monolit.

Sedangkan terhadap masalah tradisi dan modernitas, saya tidak mempertentangkan keduanya karena antara keduanya ada saling hubungan tak terelakkan. Dalam hal ini saya membedakan antara tradisi dan kekolotan atau konservatisme. Tradisi secara arti tidak identik dengan kolot. Kolot menolak perobahan, sedangkan tradisi selain berarti "adat kebiasaan turun-menurun[dari nenek moyang] yang masih dijalankan di masyarakat; penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan cara yang baik dan benar" [lihat:"Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan & Kebudayaan dan Balai Pustaka, Jakarta, 1988, hlm.959], tradisi juga bisa berarti "sebagai sesuatu hal baru tapi dijadikan sebagai kegiatan yang secara teratur dilaku ulang". Misalnya FĂȘte de la Musique [Pesta Musik] yang diadakan atas prakarsa menteri kebudayaan Perancis, Jack Lang pada masa kekuasaan Presiden Mitterrand di Perancis. Sampai sekarang Pesta Musik, ide yang tanggap aspirasi oleh rakyat Perancis telah dijadikan tradisi baru.

Kalau tradisionalitas dan modernitas dilihat dari segi kurun waktu, maka tautan keduanya akan makin jelas dan tak perlu dipertentangkan.Keduanya merupakan jawaban generasi secara budaya atas permasalahan zaman yang berbeda. Modernitas sejati tidak mungkin lahir dan berakar jika meninggalkan tradisi. Dalam artian ini modernitas membentuk dan mengembangkan diri atas dasar tradisi.Dan tidak semua nilai tradisional [sebagai kata sifat] menjadi kadaluwarsa total. Hal ini kian aktual bagi Indonesia sebagai negeri dan bangsa.

Mengenai debat Lekra-Manikebu, yang oleh Aguk Irawan Mn dikatakan bermula pada tahun 1950, saya kira secara data, Aguk melakukan kekeliruan. Manikebu tidak ada pada tahun 1950. Ia diumumkan pada tahun 1963 setelah gagalnya Muyarawah Teater Nasional Indonesia di pendapa ASDRAFI [Akademi Seni Drama Dan Film Indonesia] Yogyakarta dan memanasnya situasi politik nasional pada waktu itu [Di sini saya tidak memasuki pertanyaan: Mengapa keadaan politik nasional memanas setelah Gerakan Aksi Sepihak, dan juga tidak memasuki masalah apa bagaimana gerakan aksi sepihak untuk melaksanakan perobahan agraria].Di sini yang ingin saya tunjukkan bahwa Aguk melakukan ankronisme sejarah. Kecuali itu jika Aguk Irawan Mn membandingkan Mukadimah Lekra dan isi Manifes Kebudayaan maka Aguk akan menemui inti debat sesungguhnya tidak terletak pada masalah modernitas dan tradisionalitas. Katakanlah Aguk benar. Lalu dalam konteks ini, siapa yang modern dan siapa yang tradisional? Karena itu saya kira, Aguk perlu menjelaskan pengertian modern dan tradisional sebagai konsepsi. Apakah Manikebuis itu modern dan Lekra itu tradisional? Jika Lekra itu tradisional bagaimana Aguk menjelaskan seluruh prinsip-prinsip Lekra seperti metode penciptaan 1:5:1, tiga pemaduan [pemaduan kreatifitas pimpinan, massa dan seniman], prinsip-prinsip Mukadimah Lekra, pandangan filsafat kebudayaan Lekra, fungsi dan peranan sastra-seni dan seluruh prinsip-prinsip Lekra yang lain? Dalam konteks sejarah pada waktu itu, memahami debat Lekra-Manikebu tidak bisa lepas dari pemahaman atas keadaan politik pada waktu itu baik secara nasional maupun internasional. Debat budaya dan politik Lekra-Manikebu jauh lebih luas dari yang disebut Aguk sebagai "Permasalahannya juga tak jauh berbeda, yaitu dalam hal dan cita-cita ”mewujudkan kebudayaan baru” persoalan itu digiring melalui konsepsi ”bahasa dan sastra Arab”. Pelaku perdebatan adalah para eksponen modernisasi dan eksponen tradisionalisasi."

Memahami debat Lekra-Manikebu hanya sebatas dan bermula dari permasalahan bahasa dan sastra, saya khawatir Aguk tidak memahami benar latarbelakang dan inti debat tersebut dan masih kurang cermat mengikuti dokumen-dokumen yang masih tersedia serta bisa didapat mulai dari yang anti dan yang sangat anti Lekra maupun yang mencoba obyektif. Menempatkan dan melihat masalah sebagaimana adanya, barangkali sekarang sangat diperlukan kalau kita masih merasa sejarah mempunyai makna. Karena itu saya menyatakan kesediaan diri untuk debat dengan mereka yang paling anti Lekra dengan syarat mampu atau paling tidak mencoba melihat masalah tanpa emosi. Sangat memalukan jika setelah tiga dasawarsa lebih kita masih saja tidak bisa duduk bersama di satu meja selagi sama-sama masih bernafas untuk berbicara tenang dan melihat masalah sebagaimana adanya. Berusaha melihat masalah sebagaimana adanya, saya kira hanya memberikan manfaat kepada anak bangsa dan negeri, terutama angkatan sekarang dan selanjutnya. Hanya memberikan kegunaan bagi eksistensi dan perkembangan bangsa dan negeri bernama Indonesia ini. Artikel Aguk di atas memperlihatkan keperluan angkatannya tentang kejelasan sejarah dan betapa perlunya belajar sejarah serta adanya sejarah obyektif.


Paris, Juli 2004.
----------------
JJ.Kusni


read more...

Selasa, 11 Agustus 2009

Kesenian dan Perjuangan Kita

Oleh MYN. Sapto

Setengah orang berpendapat bahwa soal kesenian itu hanya merupakan soal iseng (sambilan) belaka dalam rangka kehidupan perjuangan organisasi kita. Di antara banyak kawan, perhatiannya selalu ditumpahkan kepada soal-soal organisasi saja dengan tidak menghiraukan aktiviteit kita dalam soal-soal kesenian. Tidak hanya demikian, tetapi cemoohpun tidak kurang!


Bagi kawan-kawan yang membisu dalam soal kesenian, suasana selalu diliputi oleh sedemikian rupa. Kita harus bekerja, pekerjaan masih banjak. Kesenian itu 'kan hiburan! Nah kalau mendapati sementara kawan yang memetik gitar, memukul gamelan, berlagu, dan sebagainya, dengan secara spontan kritik datang bertubi-tubi, bagaikan senapan mesin yang memuntahkan peluru ke sarang lawan. Bung tak tahu kerja, Bung tak mengindahkan kesibukan... Sehingga kawan yang ditegur dan dikritik secara spontan dan dangkal tadi menjadi melongo keheranan.

Memang, kejadian semacam itu adalah tidak mengherankan, selama kita masih membisu pada soal cabang kebudajaan jang penting. Lupa, bahwa perjuangan kita ini masih jauh sulit dan berat, tapi juga besar dan indah. Kita berjuang untuk mencapai kemenangan. Tentu saja kita tidak menghendaki keterbelakangan atau kemandekan sekalipun! Tetapi dalam perjuangan kita ini, sekali-kali tentu terbentur kepada kekalahan. Tidak hanya demikian, justru sampai kepada kelesuan dan akhirnja tenggelam dalam laut keputus-asaan yang akan membekukan aktiviteit kita. Selanjutnya apa yang akan kita peroleh dari kebekuan-kebekuan tadi, sedikit banyaknya tentu akan merugikan organisasi kita.

Oleh karena itu menjadi masalah bagaimana kita harus mengembangkannya? Pahlawan-pahlawan seni mempunyai rol yang penting dan ikut menentukan dalam kehidupan perjuangan kita. Apakah dan dimanakah rol kesenian dalam perjuangan kita? Memang jika hanya dilihat secara dangkal, tidaklah nampak sedikitpun. Tetapi jika ditinjau secara mendalam, kita akan tahu bahwa dia tidak dapat kita pandang remeh, sambilan atau soal-soal hiburan semata. Pendapat ini akibatnya bukan hanya menganggap bahwa kesenian jadi soal sambilan, tapi sekaligus akan menempatkan kesenian di luar perjuangan kita. Jelas sekali bahwa pendapat ini adalah pendapat yang tidak benar, yang harus segera kita berantas. Usaha ke arah ini, mulai sekarang harus kita intensifkan. Sebab di kalangan kita sampai pada saat ini, masih banyak sikap-sikap pendangkalan semacam tersebut.

Bagaimana keadaan kaum buruh perkebunan dewasa ini? Kesenian kaum buruh perkebunan dewasa ini nyata sekali berada dalam tingkat ke arah kemajuan. Mengapa tidak? Di sana sini nampak adanya organisasi-organisasi kesenian. Perkumpulan-perkumpulan yang baik ini, sebagian dipimpin langsung oleh organisasi, di mana pelaku-pelakunya (anggota) kesenian itu tergabung dalam salah satu SB di lapangan kerjanya. Sedangkan di daerah-daerah lain, mereka itu sendiri yang membentuk organisasi kesenian dan organisasi kesenian itulah yang memimpin langsung di dalam SB. Jadi bukan SBnja. Kesenian yang ada di kalangan kaum buruh perkebunan, ada beberapa macam, antaranya: ketoprak, wayang orang, ludruk, pencak, kecapi, sandiwara musik, tari-tarian buruh yang modern, juga regu-regu penyanyi koor dan masih banyak lagi. Malah di samping itu sudah nampak adanya pertumbuhan seni sastra dan lukis, misalnya saja di Air Molek dan Kajuaro. Suatu hal yang harus diakui, bahwa soal kesenian di lapangan kaum buruh perkebunan menunjukkan hari depan yang baik.

Beberapa kemajuan yang kita lihat, ialah adanya cerita-cerita sandiwara yang sudah baik. Misalnya: Tinah (diambil dari WS), Pemilihan Umum, Sabot Yang Gagal (dari HR), Pengusiran, dan sebagainya. Juga ketoprak-ketoprak dengan ceritanya: Untung Suropati, Diponegoro, Perang Banten, dan sebagainya. Tentu saja beberapa pelaku-pelakunya ada yang belum sempurna dalam melakukan rolnya. Di samping beberapa kemajuan, kita juga melihat kebekuan-kebekuan. Misalnya kumpulan kesenian itu tidak berkembang tapi malah mati. Walaupun tidak, tapi dia belum merupakan kesenian yang maju, dan mendorong perjuangan kita. Tetapi baru merupakan sikap pengabadian dari keagungan kesenian kita yang lama. Demikianlah pada umumnja kesenian kita yang berkembang di kalangan kaum buruh perkebunan pada saat ini. Terkadang malah hanya merupakan kesenian hiburan semata-mata. Kesenian-kesenian kita yang lama, kesenian yang diwariskan oleh nenek mojang kita, sebagian besar sudah tidak sesuai lagi dengan kemajuan sejarah. Tetapi walaupun demikian, sikap kita terhadap pewarisan tersebut ialah menerima dengan kritis, kita akan menerima yang baru dan mengembangkannya.

Adalah pikiran yang benar, bahwa tanpa mengubah tingkat hidup kaum buruh itu sendiri, kita akan selalu terbentur dan tidak akan lancar mengembangkan kesenian kaum buruh. Tetapi bukanlah berarti bahwa kita pasif dan perkembangan kesenian itu menggantung dan menunggu semata-mata pada datangnya perubahan tingkat hidup kaum buruh. Justru kesenian itu sendiri akan membantu untuk memenangkan perjuangan kita dan dari padanyalah kita mendapatkan suatu pencerminan keadaan yang obyektif, daripadanya kita gali bahan-bahan sebagai kenyataan dari keadaan sosial yang sedang berlaku, yang mencekik kaum buruh. Ini sekaligus akan membukakan mata kaum buruh ke arah kesadaran dan keuletan berjuang membebaskan dirinya dari penindasan. Hal ini juga akan berarti usaha pendekatan kepada organisasi serikat buruh.

Bicara tentang kesenian kaum buruh, adalah berarti membicarakan hampir dari sebagian besar kesenian rakyat Indonesia. Karenanya adalah penting. Jika hal ini kita hubungkan kembali ke atas, berarti kita dihadapkan pada tugas-tugas yang berat yang tidak kalah berat serta pentingnya dengan tugas-tugas yang lain.

Selanjutnya apa tugas kita yang pertama pada saat ini mengenai kesenian?

Jika kita meninjau susunan di tiap tingkatan organisasi kita, nyatalah bahwa pada umumnya tugas di lapangan kebudayaan dipertanggung-jawabkan oleh salah seorang kawan yang khusus. Dengan demikian dan juga dengan adanya pendiskusian yang khusus mengenai soal-soal kesenian secara luas dan mendalam, adalah memberikan kemungkinan yang besar sekali, bahwa kesenian di kalangan kaum buruh akan terus berkembang.

Pemeliharaan sebaiknja teratur. Untuk itu harus dibentuk suatu organisasi kesenian dan jangan sekretaris kebora itu sendiri memimpin langsung di dalamnya. Terkecuali jika keadaan setempat memaksa, dengan menunggu perkembangan selanjutnya. Agar pertumbuhannya tidak timbul tenggelam seperti kehanyutan yang tak tentu arah.

Di samping kita memelihara yang sedang berkembang, kita harus membangun atau memberikan suatu kemungkinan ke arah tumbuhnya kembali yang sudah beku dan yang belum tumbuh, membantu ke arah lebih besar daya kreatif.

Tukar menukar kesenian juga perlu. Artinya memindahkan hasil kemajuan mencipta dari satu daerah ke daerah yang lain. Pemindahan ini perlu, untuk mendorong dan membantu daerah-daerah lain yang belum maju. Tetapi jangan lupa, bahwa yang penting adalah bagaimana daerah-daerah itu sendiri dapat mencipta. Mengenai pemindahan, tentu saja dilakukan dengan cara memuatkan hasil-hasil ciptaan di majalah WS kita. Misalnya tidak hanya sajak-sajak, cerita pendek-cerita pendek, skets-skets, Sandiwara, lagu-lagu baru -- yang pernah diusahakan oleh DPP dimuat dalam WS -- jika babakan Sandiwara menelan banyak halaman dan belum mungkin WS kita memuatnya -- tentu saja tidak akan menjadikan WS kita majalah kesenian--, bisa diperbanyak yang kemudian disebar. Dengan demikian akan lebih pesat perkembangan kesenian di kalangan kaum buruh perkebunan. Kesenianpun harus merata dan meluas di kalangan kaum buruh perkebunan, dengan tidak adanya kesenian yang meluas dan merata, mustahil kesenian akan dapat mencapai mutu yang tinggi. Sebab kesenian yang sudah meluas dan merata, akan timbul suatu konfrontasi ke arah penilaian yang lebih baik, dan ini adalah merupakan suatu kontrol dan perbaikan.

Karenanya dalam soal ini, perlu diadakan sayembara tentang kesenian. Misalnya karang mengarang tentang beberapa hal di atas tadi, yang isinya mencerminkan suatu cita-cita dan perjuangan kaum buruh/rakjat, atau kenyataan-kenyataan yang terjadi pada dan di sekitar kaum buruh, dan yang bersifat mendidik. Hal ini juga akan mendorong ke arah lebih besar daya kreatif.

Pengalaman menunjukkan bahwa rencana-rencana kita tentang rapat-rapat, kursus-kursus, sering mengalami kegagalan dikarenakan adanya soal-soal yang tidak berarti. Misalnya film-film yang oleh majikan didatangkan ke kebun-kebun seminggu atau setengah bulan sekali, yang dalam pada itu waktunya terkadang bersamaan dengan waktu-waktu yang telah kita tentukan untuk rapat. Kaum buruh dengan begitu saja lantas meninggalkan rapat dan terus menonton film tadi. Ya, hal ini mudah dimengerti, bahwa pertama-tama karena mereka haus akan hiburan dan letaknya jauh dari kota-kota hingga terasing dari keramaian. Terutama sekali film memang mempunyai pengaruh besar di kalangan masyarakat umum, terlebih di perkebunan.

Tetapi di samping kerugian kita karena mereka tak datang ke kursus atau rapat, kita akan mengalami kerugian yang lebih besar lagi. Sebab pada umumnya film-film yang berisikan cerita picisan yang tidak mempunyai arti pendidikan sama sekali, bahkan merusak. Oleh karena itu, sesuai dengan tingkat keadaan dan kesadaran kaum buruh itu sendiri, mereka tidak mampu memerangi pengaruh kejahatan yang bertandang di balik layar putih itu. Menyerah!

Satu hal lagi, bahwa di beberapa daerah perkebunan, masih terdapat banyak kesenian-kesenian yang bersifat merusak. Kesenian-kesenian tadi ialah tari muda-mudi yang kebarat-baratan, malah hampir-hampir dapat dikatakan bukan lagi tari muda-mudi, gepok sengol anggota badan, sampai mencium dan sebagainya. Tayuban sampai kepada merusak tandaknya dan mencium karena mabuk minum wisky.

Jadi kegiatan kita di lapangan kesenian seharusnya mengimbangi dan melawan kepalsuan, kecabulan dan kejahatan tadi. Kita memberantas film-film dan pertunjukan-pertunjukan lainnya yang jahat, tetapi dengan tidak mengadakan kegiatan-kegiatan pada kita sendiri di lapangan kesenian, adalah tidak mungkin!

Kesenian kita harus menjadi pendorong dan sumber yang senantiasa mengalirkan kesegaran jiwa, keindahan hidup, dan api perjuangan yang tak kunjung padam. Harus selalu menjiwai langkah-langkah kita dan menjadikan manusia yang berkemanusiaan.

Beberapa uraian secara singkat di atas, hendaklah menjadikan sumbangan bahan diskusi oleh kawan-kawan lebih jauh. Terutama sekali dititik-beratkan pada daerah Sumatera Tengah. Mungkin sekali, kawan akan mengatakan bahwa, itu tidak lengkap, dan sebagainya, dan sebagainya, memang, tulisan ini bermaksud menggugah terhadap kepasifan jang selama ini terasa.
Dan alangkah lebih baiknya jika halaman kebudajaan dalam WS kita ini, kita jadikan lapangan pengolahan tentang kesenian. ***

(dari Warta Sarbupri, No. 3. Thn Ke VII, Achir Maret 1956)

read more...